Psikologi di Balik Cerita Fiksi! Membaca Mengubah Kita

oleh -106 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Siapa di sini yang suka dengan novel atau film fiksi? Jika Iya kalian satu golongan dengan saya. Karena fiksi bisa menampilkan hal yang tidak ada di dunia nyata dan membuat kreativitas kita berputar, berimajnasi seolah-olah kita masu ke dalam novel itu dan mengikuti cerita yang tertulis di dalamnya. Tapi mungkin Anda belum tahu bahwa banyak manfaat yang kita petik dari menyukai novel fiction. (herdi)

Mekanisme di balik kekuatan transformasi fiksi

Jalan dari halaman ke hati jauh dari mudah. Bukannya pada saat kita mencapai kata terakhir dari sebuah buku, kita bermetamorfosis menjadi versi diri kita yang lebih baik dan lebih bijaksana. Tampaknya perjalanan itu sendiri juga merupakan tempat keajaiban mendongeng.

Bukankah itu sebabnya kita siap bergandengan tangan dengan orang asing dan menyerah pada keputusan nasib imajiner mereka?

Bukankah itu sebabnya kami berjanji untuk mengikuti protagonis kami melintasi benua dan abad, untuk jatuh dan menang bersama mereka, untuk mencintai, berduka, untuk belajar bersama mereka?

Pada saat kita melepaskan tangan mereka, ada dua hal yang pasti: kita bukan lagi orang asing; sesuatu di dalam diri kita telah diaduk. Itu bisa saja bergetar, seperti percikan kepingan salju yang menari di bola salju. Itu juga bisa menjadi badai salju. Perombakan ini, apa pun bentuknya, merupakan komponen integral dari kekuatan transformasional fiksi.

Berikut adalah lima jalan potensial untuk pengembangan diri melalui fiksi:

1. Empati

Empati adalah konstruksi multidimensi yang mencakup kemampuan untuk menyimpulkan keadaan mental orang lain dan mengalami emosi yang dirasakan orang lain. Ketika kita membaca fiksi, kita sedang berlatih membaca pikiran orang lain. Proses simulasi di mana pembaca mencoba memahami motif, pikiran, dan emosi karakter dapat meningkatkan empati kognitif.

2. Keterampilan sosial

Keterampilan sosial melibatkan kemauan untuk melakukan sesuatu dengan pengetahuan kita tentang apa yang orang lain pikirkan dan rasakan untuk meningkatkan interaksi sosial. Empati kognitif, dengan demikian, adalah kondisi yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk keterampilan sosial yang baik. Kita masih perlu mempraktikkannya.

3. Belajar tentang diri kita sendiri

Fiksi memberikan kesempatan ini, sebagai hasilnya, membantu kita belajar lebih banyak tentang keistimewaan kita sendiri. Ketika cerita membawa kita ke dunia yang berbeda, kita tidak hanya diperkenalkan pada banyak cara untuk hidup dan menjadi, tetapi kita mungkin juga menyadari betapa terikatnya kita dengan identitas kita sendiri.

4. Kepribadian

Fiksi dapat membantu kita secara mental keluar dari narasi-diri ini dan berlatih berada dalam keadaan di mana kita tidak terikat oleh generalisasi luas tentang diri kita sendiri. Membaca mengajarkan kita nuansa dan kompleksitas tidak hanya tentang dunia tetapi juga tentang kepribadian yang hidup di dunia. Akibatnya, kita mungkin menjadi lebih cair dalam cara kita melihat diri kita sendiri.

5. Keterampilan kognitif

Kebutuhan yang tinggi untuk penutupan kognitif dapat memiliki efek negatif pada berbagai strategi pemrosesan informasi, termasuk kreativitas. Temuan kami menunjukkan bahwa membaca fiksi dapat mengurangi kebutuhan penutupan kognitif dan membantu menjaga pikiran tetap terbuka. Pada gilirannya, pikiran terbuka dapat meningkatkan pemikiran dan kreativitas, karena membantu mencegah penutupan kognitif dini.

Sumber: psychologytoday

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.