Tumbukan Asteroid Terjadi Saat Musim Semi di Utara

oleh -123 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Mungkin banyak dari kita telah mengetahui, sekitar 66 juta tahun lalu, asteroid selebar 10 kilometer menghantam Bumi. Tumbukan ini diketahui telah mengakibatkan adanya kepunahan banyak spesies di darat dan laut. Contohnya, dinosaurus non-burung dan spesies lainnya. Namun, saking lamanya rentang waktu peristiwa tersebut, para ilmuwan pun tidak tahu menahu tentang detail peristiwa ini.

Penelitian terbaru yang jurnal Nature rilis berisi petunjuk baru. Makalah berjudul The Mesozoic Terminated in Boreal Spring” mereka rilis pada Rabu (23/02/2022) kemarin. Tertulis pernyataan bahwa tumbukan tersebut terjadi saat bumi belahan utara berada di musim semi dan musim gugur di belahan selatan.

Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini mereka ungkap berdasarkan hasil dari analisis konkret dari tulang ikan yang mati kurang dari 60 menit setelah asteroid jatuh. Para peneliti menganalisis bagian tipis dengan pemindaian sinar-X sinkrotron beresolusi tinggi dan catatan isotop karbon. Fosil ini mereka temukan dari situs Tanis di barat daya North Dakota, AS. Yang mana fosil tersebut pun terawetkan dengan baik untuk mereka teliti.

Menurut data dari Science News, situs ini para peneliti temukan pada 2008 dan merupakan tempat hasil tumbukan bencana tersebut. Para peneliti mencatat, tumbukan besar itu menyebabkan lempeng benua dan gelombang besar. Hal inilah yang membuat volume sedimen yang sangat besar dapat menelan dan mengubur ikan hidup-hidup.

Hasil Penelitian Ilmiah Tumbukan Asteroid

“Tulang-tulang ini mencatat pertumbuhan musiman seperti halnya pohon,” kata Sophie Sanchez. Seorang peneliti di┬áDepartment of Organismal Biology, Evolutionary Biology Centre, Uppsala University, Swedia.

Bagian fosil yang mereka teliti adalah rahang pada tiga ikan dayung dan duri tulang tulang dari sirip dada tiga ikan sturgeon. Berdasarkan hasil analisis, lapisan terluar dari keenam tulang tersebut menunjukkan pertumbuhan cepat selama siklus pertumbuhan dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut seorang ahli paleontologi vertabrata di Uppsala University, Melanie Selama, musim pertumbuhan yang terakhir tercatat pada tulang belum sampai pada puncaknya di musim panas ketika ikan-ikan ini mati.

“Dengan indikasi, ikan ini baik-baik saja,” terangnya. Sebab berdasarkan pengamatan, keteraturan garis pertumbuhan yang terhenti pada tulang ikan menunjukkan ikan itu tidak menderita kekeringan atau kelaparan saat mati.

Dari sinilah tim menyimpulkan bahwa peristiwa besar yang melenyapkan dinosaurus darat dan laut terjadi di musim semi. Selain itu, analisis lain yang tim lakukan mengindikasi pertumbuhannya yang berhenti pada waktu musim semi.

Mereka meneliti salah satu ikan dayung berdasarkan analisis isotop karbon untuk mengungkapkan pola makan tahunannya. Menurut Melanie, persediaan plankton yang jadi mangsanya tersebar secara musiman dan akan memuncak pada musim semi dan musim panas.

“Sinyal isotop karbon di seluruh catatan pertumbuhan ikan dayung yang malang ini menegaskan bahwa musim untuk makan belum klimaks. Kematian menjemputnya di musim semi,” lanjut Melanie.

“Saya benar-benar berpikir ini adalah kisah yang solid untuk didukung oleh bukti kuat,” ujar Stephen Brusatte. Seorang paleontolog vertebrata di University of Edinburgh, Skotlandia, yang terlibat dalam penelitian ini. (cva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.