Acetabularia Jalakanyakae

oleh -55 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Tim peneliti gabungan dari Central University of Punjab, Central University of Kerala, dan DAV College telah mendeskripsikan spesies baru alga hijau uniseluler Acetabularia Jalakanyakae. Spesies baru tersebut berasal dari habitat intertidal berbatu di Kepulauan Andaman dan Nicobar. (cva)

Kepulauan Andaman dan Nicobar adalah wilayah bagian India yang terletak di Samudera Hindia. Kepulauan ini terdiri atas 2 kelompok utama, Kepulauan Andaman dan Kepulauan Nicobar.

Genus Acetabularia terdiri dari setidaknya 13 spesies. Empat spesies berasal dari India, termasuk tiga dari Kepulauan Andaman dan Nicobar.

Acetabularia adalah genus ganggang hijau bersel tunggal yang masih ada di perairan subtropis. Genus tersebut termasuk dalam keluarga Polyphysaceae dari ordo Dasycladales.

Dasycladales adalah ordo ganggang hijau uniseluler besar di kelas Ulvophyceae. Ini berisi dua keluarga, Dasycladaceae dan Polyphysaceae. Ganggang bersel tunggal ini memiliki panjang 2 mm hingga 200 mm. Mereka hidup di substrat di perairan laut yang hangat dan dangkal, biasanya kurang dari 20 meter.

Hasil Penemuan

Spesies yang baru diidentifikasi dikumpulkan dari batuan intertidal di Port Blair, ibu kota Kepulauan Andaman dan Nicobar. Deskripsi lengkap penemuan tersebut telah terbit di NIScPR Online Periodicals dengan judul “Morpho-molecular assessment of Acetabularia jalakanyakae Sp. Nov. (Dasycladales, Chlorophyta) – a new species from Andaman and Nicobar Islands, India“.

Spesies baru tersebut bernama Acetabularia jalakanyakae. Secara morfologi mirip dengan Acetabularia crenulata, spesies alga hijau dari Key West, Florida.

Keragaman Dasycladales saat ini mencakup 38 spesies yang termasuk dalam 10 genera dan di bagi menjadi dua famili Dasycladaceae dan Polyphysaceae, yang dapat di anggap sebagai ‘fosil hidup’. Alga Acetabularia adalah dioecious dan memiliki tinggi 0,5 sampai 10 cm (0,2-3,9 inci).

Untuk penelitian ini, isolat Acetabularia berasal dari habitat intertidal berbatu di Kepulauan Andaman dan Nicobar. Para peneliti menggunakan mikroskop cahaya dan Scanning Electron Microscopy untuk karakterisasi morfologi.

Ciri-ciri yang berbeda dari topi thalli di prioritaskan karena, secara tradisional, de limitasi spesies di Acetabularia terutama di dasarkan pada morfologi topi. “Isolat kami menunjukkan kesamaan morfologi dengan Acetabularia crenulata. Namun, jumlah rambut di cincin bagian dalam lobus topi dan panjang tangkai di amati berbeda dari Acetabularia crenulata dan spesies lain yang berkerabat dekat,” tulis peneliti dalam laporannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *