Baby Blues, Cerita Pasutri Muda yang Bertukar Raga

oleh -70 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Bagi pasangan muda yang baru dikaruniai momongan, pasti sering mendengar istilah baby blues. Baby blues adalah perasaan sedih, gundah, hingga stres yang umumnya dirasakan oleh seorang perempuan ketika baru saja melahirkan. Jika tidak dikendalikan, baby blues bisa jadi petaka. (cva)

Nah, berangkat dari premis itu, film Baby Blues keluaran rumah produksi MVP Picture ini dibuat. Menggaet Vino G. Bastian dan Aurelie Moeremans, film ini sudah tayang di seluruh bioskop tanah air sejak tanggal 24 April lalu.

Cerita pasutri muda yang tertukar raga

Dika (Vino G. Bastian) dan Dina (Aurelie Moeremans) adalah sepasang suami istri yang baru memiliki anak. Tak hanya soal senangnya dikaruniai anak, ternyata ada banyak keluh kesah yang dialami keduanya.

Apalagi Dina, seorang ibu muda yang minim pengalaman mengurus bayi. Dia begitu kewalahan, sementara Dika tidak berhasil mendampinginya dengan baik. Dika masih sering nongkrong bahkan main Playstation hingga larut malam.

Kekesalan Dinda membuncah tatkala Dika lupa mengantarkan anaknya imunisasi. Dinda pun marah besar pada suaminya itu. Tak terima dimarahi Dinda, Dika jadi emosi. Keduanya jadi bertengkar hebat.

Setelah pertengkararan tersebut, keesokan paginya secara ajaib Dika dan Dinda bertukar tubuh! Dika harus menjalani hidup sebagai Dinda. Sementara Dinda harus menjalani hidup sebagai Dika. Keduanya akhirnya merasakan kesulitan pasangannya masing-masing.

Namun, apakah pasutri ini dapat kembali ke raga asalnya kembali? Dan bagaimana cara Dinda meredakan baby blues yang tengah ia alami? Kamu akan mendapatkan jawabannya dalam film ini.

Komedi hambar yang bikin kita sulit tertawa

Secara menyeluruh, film ini menyelipkan banyak jokes. Vino, Aurel, Rigen, Abdurrahman Arif, sampai Erik Ekstrada kebagian dialog lucu yang diharapkan dapat membuat penonton terhibur.

Namun, entah mengapa dialog dan adegan komedi dalam film ini terasa anyep. Entah isi dialognya yang memang garing atau cara menyampaikan si aktor yang kurang pas sehingga komedinya jadi terasa kurang

Naskah mentah yang di paksa matang

Sepertinya, masalah utama dalam film ini ada pada naskahnya. Entah mengapa naskah cerita film ini terasa seperti menggunakan naskah draft pertama. Masih terasa begitu mentah.

Banyak adegan-adegan yang terasa di paksakan dan terkesan mengulur durasi. Adegan Dinda pergi ke dukun atau adegan Dika pergi ke Tante Poppy untuk minta ASI contohnya. Terasa kurang penting untuk ditampilkan.

Dalam film ini tidak terlalu di ceritakan kedekatan Dinda dan orang tuanya. Baru di penghujung film, ibu Dinda datang untuk menyampaikan informasi yang penting. Uniknya, setelah tidak bertemu lama dengan anaknya yang baru saja melahirkan. si ibu hanya bilang jika dia baru saja bercerai dengan ayahnya Dinda.

Durasi adegan itu mungkin hanya berkisar lima menit saja. Tanpa kesan karena dari awal tidak di ceritakan kedekatan antara Dinda dengan ibunya. Sejak awal film, karakter ibu Dinda tak pernah muncul.

Ada juga sosok misterius yang di perankan Erik Ekstrada. Erik di film ini berperan sebagi narator. Sayang bukannya memberi kesan pembeda dalam film, sosok Erik justru terasa mengganggu alur film.

Penonton pasti akan terasa bahwa pada akhirnya isu baby blues bukan jadi fokus utama film ini. padahal di babak awal film ini semua terasa meyakinkan. Akting Aurelie Moeremans yang mulai stres dengan kelakuan suami dan mertuanya sudah begitu memberi harapan yang tinggi.

Sayang, pertukaran jiwa justru bikin fokusnya bias. Semua jadi berfokus tentang Dinda yang beradaptasi dengan tubuh barunya dan begitu pula sebaliknya dengan Dika

Observasi karakter yang cukup bagus

Beruntungya film ini di mainkan oleh aktor-aktor yang oke. Observasi yang di lakukan oleh Aurel dan Vino jadi poin penting yang membuat karakter mereka jadi hidup. Ketika mereka bertukar raga –baik Aurel maupun Vino– menampilkan akting ciamik mereka.

Apalagi dengan akting Ratna Riantiarno dan Mathias Muchus, orang tua Dika. Akting keduanya benar-benar menambah nilai film ini.

Ratna kembali memamerkan kebolehannya menjadi ibu-ibu kebanyakan yang ada di Indonesia. Sama mantapnya dengan aktingnya menjadi ibu-ibu di Love For Sale 2 dan Pelangi Tanpa Warna. Sementara Mathias Muchus, kita pasti tahu jika aktor legendaris ini selalu bisa memerankan karakter apa saja.

Gambar cantik tapi lupa detail

Film ini di sutradarai oleh Andi Bachiar Yusuf. Soal penyutradaraan Andi sudah punya pengalaman panjang dan itu juga yang mungkin membuat akting Vino, Aurel dan pemeran lain jadi maksimal. Di tambah colour grading unik, film ini ciamik. Pengambilan gambarnyapun menarik.

Sayang, ada beberapa detail yang di lewatkan oleh Andi. Salah satunya adalah di adegan Dika dan Omen yang tengah main game bola di PS. Awalnya yang di mainkan Omen dan Dika adalah klub liga Inggris.

Namun, ketika Dika hendak mencetak gol, Omen menekan tombol start dengan dalil hendak mengatur formasi. Nah, ketika kamera merekam kembali layar televisi, kali ini yang di mainkan oleh Omen dan Dika adalah klub liga Italia. Sederhana, tapi sepertinya hal ini tak akan luput dari pandangan penonton.

Bagaimana menurut kamu setelah baca review film Baby Blues? Buat kamu yang hendak menikah, baru menikah atau baru memiliki momongan, film ini mungkin cocok kamu tonton. Kesampingkan ekspektasi hiburannya dan nikmati saja filmnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *