Kartu Prakerja Kurang Efisien Mengurangi Pengangguran! Benarkah?

oleh -15 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Kartu prakerja merupakan salah satu program dari pemerintah yang ditujukan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan kompetensi kerja dan kewirausahaan, terutama bagi korban PHK dan pengangguran.

Namun belakangan muncul kabar bahwa program kartu prakerja dinilai belum efektif dalam mengurangi penganggiran di Indonesia. Hal ini banyak mengundang perhatian publik karena program ini mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

Janji dari Presiden

Program ini dijanjikan oleh Presiden Joko Widodo saat melakukan kampanye pilpres tahun 2019. Program kartu prakerja membuka pendaftaran pertama kali pada 17 April 2020 saat pandemi corona telah membuat banyak pekerja terkena PHK. Awalnya program ini akan dilaksanakan secara tatap muka atau offline. Namun, demi menjangkau masyarakat luas, maka diambil keputusan untuk diselenggarakan secara online.

Tahun lalu saya telah mencoba mendaftarkan diri pada program tersebut. Benefit yang saya dapat antara lain uang insentif khusus untuk membeli kelas online senilai Rp1.000.000, uang insentif bulanan sebesar Rp600.000 selama 4 kali, uang survey sebanyak Rp50.000 3x, serta sertifikat pelatihan dari kelas online yang saya beli.

Apakah program kartu prakerja dari pemerintah efektif untuk mengurangi angka pengangguran?

baca juga : Kenalan dengan 4 Mental Miskin yuk! Salam Perubahan

Pro dan Kontra Kartu Prakerja

Seperti dua mata pisau, program kartu prakerja mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat maupun beberapa ahli. Dikutip dari liputan6.com, menurut Menko Airlangga, faktor penyebab pengangguran itu kompleks. Program ini dirasa belum mampu untuk menyelesaikan masalah pengangguran secara signifikan. Data juga menunjukan pada bulan Agustus 2021 angka pengangguran di Indonesia hanya turun sekitar 0,5 persen dari angka 6,5 persen, sedangkan data dari kartu prakerja setelah dilakukan survey terdapat 17 persen yang menganggur telah bekerja, 46 persen masih berupaya, dan 27 persen memutuskan berwirausaha.

Program kartu prakerja pada peluncuran awal juga dinilai sangat tidak efisien dan beresiko karena dianggap melakukan pemborosan anggaran. Dari total anggaran sebanyak 20 triliun rupiah, sebanyak 5,6 triliun rupiah mengalir ke kantong lembaga pelatihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.