Eoscansor, Reptil Pemanjat Pohon Berusia 305 Juta Tahun

oleh -23 views

ZETIZENRADARCIREBON – Kabar terbaru bagi pecinta reptil kuno, tim paleontolgi dan peneliti dari New Mexico Museum of Natural History and Science telah menemukan fosil reptil pemanjat pohon tertua. Fosil ini teridentifikasi milik Eoscansor, hasil penelitian menyeluruh kerangka tidak lengkap yang di temukan di New Mexico, Amerika Serikat. (cva)

Eoscansor, keluarga reptil punah yang menyerupai biawak dan mungkin telah mengisi ceruk yang sama. Reptil purba itu berukuran 24,5 centimeter (9,6 inci) dan beratnya 58,3 gram. Fosil tersebut para peneliti temukan di daerah Northern New Mexico dekat Chama. Menurut para paleontog, fosil tersebut berusia sekitar 305 juta tahun. Fosil itu sekarang menjadi bagian dari koleksi New Mexico Museum of Natural History and Science. Deskripsi lengkap temuan tersebut telah di terbitkan dalam jurnal ilmiah Annals of the Carnegie Museum. Artikel dengan judul “A Scansorial Varanopid Eupelycosaur from the Pennsylvanian of New Mexico” telah rilis belum lama ini.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies ini adalah pemanjat dan bertipe aboreak (hidup di pepohonan). Pada fosil, terdapat adaptasi cakar, falang, dan metapodial yang menunjukkan kemampuan menggenggam, menempel, dan memanjat. Kemudian kesetaraan kelengkungan cakar yang tinggi dan panjang tungkai antara tungkai depan dan belakang. Massa tubuh dalam kisaran kadal pemanjat yang masih ada saat ini, rasio panjang tibia/panjang tulang paha yang sangat rendah dan pusat gravitasi rendah untuk memfasilitasi postur merayap di permukaan yang miring.

Spencer G. Lucas, kurator paleontologi di New Mexico Museum of Natural History and Science mengatakan, penemuan fosil di New Mexico tersebut telah menulis ulang buku teks paleontologi. “Dalam hal ini, mengungkapkan seorang pendaki kecil yang gesit yang merupakan penghuni dunia Pennsylvania yang sebelumnya tidak terduga,” kata Lucas dalam pernyataannya.

Adapun anggota dari tim peneliti yang berjasa dalam penemuan fosil reptil ini yaitu, Research Associates Larry F. Rinehart dan Matthew D. Celeskey dari New Mexico Museum of Natural History and Science. Kemudian ada pula Kurator Carnegie Museum of Natural History, David S Berman dan Manajer Koleksi Amy C. Henrici.

Asal – Usul

Kerangka Eoscansor

Nama Eoscansor (EE-oh-SKAN-sor) sendiri berasal dari akar kata Yunani eo (fajar) dan scansor (pendaki). Eoscansor adalah eupelycosaur, sekelompok reptil yang telah punah yang mencakup reptil Dimetrodon yang bersayap, yang sering disalahartikan sebagai dinosaurus. Namun, eupelycosaurus lebih dekat hubungannya dengan mamalia daripada dinosaurus. Penemuan ini merupakan tambahan yang signifikan untuk catatan fosil New Mexico.Fosil tersebut kemudian mengalami proses pengawetan sebagai bagian dan pasangan pada dua blok batuan, sebagai blok A dan blok B.

“Penemuan Eoscansor cobrensis merupakan tambahan yang signifikan untuk catatan fosil New Mexico, yang sudah termasuk yang paling kuat di negara ini,” kata Lucas dan rekan.

Pertama, penemuan Eoscansor mendorong kembali pemahaman kita tentang kapan reptil mulai memanjat setidaknya 15 juta tahun. Karena sebelumnya reptil pemanjat tertua berasal dari bebatuan berusia sekitar 290 juta tahun di Jerman. Selain itu, penemuan ini menunjukkan bahwa reptil jauh lebih beragam dalam anatomi dan perilaku selama Periode Pennsylvania daripada yang kita ketahui sebelumnya.

“Banyak fitur anatomi dari kerangka fosil, terutama anggota badan, tangan, dan kaki, menunjukkan bahwa ia hampir pasti memanjat pohon. Giginya menunjukkan itu adalah predator yang kemungkinan memakan serangga,” kata para arkeolog.

Eoscansor cobrensis adalah pemanjat yang kecil dan sangat gesit, dan penemuannya kemungkinan berarti masih banyak lagi reptil pemanjat yang harus ditemukan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.