10 Bentuk Defense Mechanism Milik Manusia

oleh -41 views
defense mechanism

ZETIZEN RADAR CIREBON – Ketika menghadapi situasi yang membahayakan diri sendiri ataupun psikologis, maka sistem pertahanan diri kita akan aktif dengan sendirinya. Sistem pertahanan diri atau defense mechanism ini akan aktif sebelum kita sendiri menyadari bahayanya.

Menurut teori psikoanalisis, ide tentang defense mechanism berangkat dari interaksi 3 komponen yaitu id, ego, dan super ego.

Artinya, mekanisme pertahanan bisa terjadi di luar kendali dan kesadaran sepenuhnya dari individu yang bersangkutan. Bahkan, orang bisa menerapkan defense mechanism tanpa sadar strategi yang digunakannya.

1. Penyangkalan (denial)

Bentuk defense mechanism yang paling umum dilakukan adalah menyangkal atau denial terhadap realita atau fakta yang ada.

Dengan cara ini, seseorang menutup akses terhadap situasi tertentu sehingga tak akan ada dampak secara emosional. Sederhananya, seseorang memilih untuk menghindari situasi yang menyakitkan.

2. Represi

Tak sedikit pula orang yang memilih menghindari perasaan, kenangan, atau prinsip yang tidak mengenakkan. Harapannya, suatu saat nanti semua hal yang kurang menyenangkan itu bisa terlupakan sepenuhnya.

Mekanisme pertahanan represi ini bisa berpengaruh terhadap cara seseorang menjalin hubungan dengan sesama.

3. Proyeksi

Terkadang, perasaan atau asumsi tentang orang lain membuat diri sendiri tak nyaman. Pada defense mechanism proyeksi, pola pikirnya cenderung dibalik sebagai bentuk pembenaran atas asumsi yang ada.

Contohnya saat merasa kurang cocok dengan seorang rekan kerja, seseorang akan meyakinkan dirinya bahwa rekan kerjanya itu tidak menyukainya.

Baca juga: Kesepian di Tempat Ramai ? Berikut Alasannya

4. Pelampiasan (displacement)

Ada kalanya seseorang melakukan defense mechanism berupa pelampiasan atau displacement kepada orang yang dirasa tidak mengancam. Dengan demikian, reaksi tetap bisa tersampaikan namun tidak ada konsekuensi yang mengikutinya.

Contoh mudahnya adalah seseorang yang mengalami masalah di kantor namun justru melampiaskannya pada pasangan atau anak ketika sudah berada di rumah. Padahal, pasangan dan anak bukanlah target utama emosi yang ada saat itu.

5. Regresi

Jenis defense mechanism ini paling mudah terlihat pada anak-anak. Ketika mereka merasakan trauma atau kehilangan, bisa terjadi regresi kembali ke fase sebelumnya seperti kembali mengompol atau menghisap jempol.

Regresi juga bisa terjadi pada orang dewasa. Entah itu pelariannya pada makanan, merawat binatang, menggigit kuku, dan banyak lagi. Tak jarang, seseorang akan memilih menghindari aktivitas normalnya sehari-hari karena merasa kewalahan dengan perasaannya.

Baca juga: Apakah Benar Nostalgia Bisa Membuat Kita Kecanduan?

6. Rasionalisasi

Terkadang ada orang yang memaparkan fakta versinya sendiri demi menjelaskan mengapa perilakunya cenderung “ajaib”.

Bagi orang yang menerapkan defense mechanism jenis ini, mereka akan merasa nyaman dengan pilihannya meskipun sadar bahwa dia sendiri juga melakukan kesalahan.

7. Sublimasi

Jika ada defense mechanism yang di anggap strategi positif, sublimasi adalah salah satunya. Orang yang menerapkan mekanisme ini memilih melampiaskan emosi atau perasaannya pada objek atau aktivitas yang lebih aman.

Contohnya, seorang atasan yang marah terhadap perilaku bawahannya akan memilih melampiaskan emosinya dengan berolahraga. Selain itu, ada juga yang memilih sublimasi ke aktivitas lain yang berhubungan dengan musik atau kesenian.

8. Formasi reaksi

Pengguna defense mechanism jenis ini sebenarnya sadar betul dengan apa yang di rasakannya, namun memilih untuk berperilaku sebaliknya. Contohnya orang yang tengah mengalami frustrasi justru berperilaku dengan sangat positif, begitu pula sebaliknya.

9. Kompartementalisasi

Demi bisa melindungi tiap elemen dalam kehidupan seseorang, ada juga yang memilih melakukan kompartementalisasi. Seperti namanya, ini berarti mengklasifikasikan aspek kehidupan ke dalam sektor-sektor independen.

Contohnya, seseorang memutuskan tidak akan membawa urusan pribadi ke ranah pekerjaan. Begitu pula dengan aspek lainnya. Dengan cara ini, seseorang bisa fokus menjalankan tugasnya tanpa memikirkan tentang masalah di aspek lain.

10. Intelektualisasi

Terkadang ketika sedang berada di fase berusaha, seseorang akan menanggalkan seluruh emosi dan fokus pada fakta kuantitatif. Strategi ini bisa di terapkan kapan saja ketika di rasa perlu. Harapannya, dengan tidak mencampurkan emosi maka pekerjaan akan selesai dengan tuntas dan optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.