6 Kesalahan saat Mengendarai Motor Matik

oleh -24 views
motor matik

ZETIZEN RADAR CIREBON – Suatu kemudahan yang ada dalam motor matik memang sangat efektif, berbeda dengan motor kopling yang melelahkan.

Hanya saja dengan segala kemudahan itu membuat pengendaranya sering terlena. Tak sedikit yang mengabaikan anjuran cara berkendara motor matik, sehingga menjadi kesalahan.

Nah kesalahan itu kini menjadi kebiasaan yang sering kita jumpai sehari-hari. Apa saja kesalahan yang dimaksud? mari kita simak penjelasan yang di lansir dari laman kumparan.

1. Menahan tuas rem sambil jalan

Ya, perilaku pertama kerap tak terhindarkan. Banyak pengendara yang melajukan motornya sambil menarik sedikit tuas remnya.

Alhasil lampu rem cepat mati karena menyala terus-menerus, maka jangan heran menemukan motor yang lampu belakangnya tidak hidup.

Baca juga: Ini Dia Teknik Kendarai Motor MotoGP

2. Menahan gas saat berhenti

Masih berkaitan dengan poin satu, ada pula yang menahan gas saat macet-macetan. Caranya dengan buka gas sedikit tapi lajunya ditahan tuas rem.

Service Advisor Honda Margo Mulyo Megah, Pasar Minggu, Ahmad Kosasih mengatakan, hal tersebut tanpa disadari membuat kampas kopling motor matik cepat aus.

“Kalau pemakaiannya tepat, penggantian kampas kopling itu sesuai buku servis di 30.000 km. Tapi kalau sering menahan gas paling tidak di 18.000 km harus ganti,” katanya kepada kumparan.

Ini karena timbul gesekan besar. Sebab saat gas di putar, kampas kopling ikutan berputar, sedangkan rumah kopling yang terhubung dengan ban tidak berputar. Alhasil timbul gesekan yang besar dan panas yang membuat kopling cepat aus.

3. Narik gas dalam-dalam di awal

Selanjutnya perilaku yang sering kali di temui di lampu lalu lintas. Seketika lampu hijau, para pengendara motor matik langsung membetot gasnya dalam-dalam.

Memang bisa mendapatkan akselerasi maksimal. Tapi bila di lakukan berulang maka membuat v-belt cepat aus, juga boros bensin.

Baca juga: Awas Sering Terobos Banjir Bisa Jadi Penyebab Motor Turun Mesin

Dua pengendara sepeda motor berhenti di dalam Kotak Kuning Persimpangan (Yellow Box Junction) saat lampu merah menyala di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Dua pengendara sepeda motor berhenti di dalam Kotak Kuning Persimpangan (Yellow Box Junction) saat lampu merah menyala di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

4. Lalai ganti oli gardan

Kemudian berkaitan dengan perawatan, pemilik sering kali abai mengganti oli gardan. Padahal anjurannya setiap 8 ribu km sekali.

Ahmad menuturkan, jika di biarkan tidak diganti, bisa menimbulkan bunyi bising pada area gardan. Selebihnya karena mengandung kotoran, gesekan bisa mengakibatkan komponen penggerak motor ambrol.

5. Jarang bersihkan rumah CVT

Motor matik yang menggunakan penggerak v-belt dan pulley bukannya tanpa perawatan. Jelas Technical Training Analyst PT Astra Honda Motor (AHM) Endro Sutarno minimal bersihkan CVT 8 ribu km sekali.

Cara ini di lakukan agar menghindari gejala gredek atau getar saat akselerasi awal. Terlebih untuk menjaga kualitas kampas kopling tetap optimal, sehingga menghindari bunyi decitan gesekan kotoran pada rumah kopling.

6. Mematikan mesin pakai standar samping

Terakhir ini sebenarnya tidak dilarang. Namun hindari perilaku ini karena menyangkut keamanan motor. Sebab standar samping bukan peranti untuk mematikan mesin.

Bisa-bisa Anda lupa, motor memang sudah mati tapi tidak dengan sistem kelistrikannya. Kemudian berjalan meninggalkan motor dan membiarkan sistem kelistrikan selalu hidup.

Untuk itu sebaiknya selalu ingat matikan mesin motor matik melalui kunci kontak. “Dengan begitu tak cuma mesin, seluruh sistem motor yang berkaitan dengan aki juga ikut mati,” pungkas Endro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.